MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Hiburan

Chandra Satria rilis trilogi musik 'Dan Bila Esok', gandeng Sheila Majid sampai Eross Candra

Chandra Satria baru saja memperkenalkan babak baru dalam perjalanan kreatifnya lewat "Dan Bila Esok". Proyek ini bukan cuma rilis lagu pada umumnya, tapi berupa trilogi musik dan visual yang menggabungkan lagu, karakter, serta cerita dalam satu rangkaian karya. Chandra sengaja merancang proyek ini sebagai perjalanan naratif, jadi pendengar diajak mengikuti kisah melalui tiga lagu yang saling terhubung.

Ketiga lagu tersebut adalah “Saat Denganmu”, “Dan”, dan “Pilihan”. Semuanya dikembangkan menjadi rangkaian video musik dengan kesinambungan cerita. Menurut Chandra, musik punya kekuatan untuk menyampaikan kisah dan membangun ikatan emosional dengan pendengarnya. Dia percaya bahwa setiap lagu punya cerita, dan setelah lama berada di dunia musik serta pertunjukan, dia ingin membawa cerita tersebut lebih jauh agar tidak hanya didengar, tetapi juga bisa dilihat, dirasakan, dan diikuti perjalanannya.

Kolaborasi bareng musisi legendaris

Bagian pertama dari trilogi ini dibuka dengan lagu “Saat Denganmu”. Di sini, Chandra berkolaborasi dengan penyanyi legendaris asal Malaysia, Sheila Majid. Menariknya, kolaborasi ini jadi momen pertemuan kembali bagi keduanya setelah sebelumnya pernah berduet lewat lagu “Ingatlah Diriku” pada 2009. Kehadiran Sheila Majid memberikan dimensi tersendiri, terutama dalam mempertemukan karakter vokal dua musisi yang sudah punya pengalaman panjang di industri musik.

Untuk urusan musik, aransemen lagu “Saat Denganmu” digarap oleh Tohpati dengan dukungan orkestrasi dari Budapest Scoring Orchestra. Perpaduan ini sengaja dibuat untuk menghadirkan warna musikal yang lebih luas sekaligus memperkuat nuansa emosional dalam lagunya.

Cerita kemudian berlanjut ke lagu kedua berjudul “Dan”. Lagu ini merupakan ciptaan Eross Candra yang sebelumnya sudah dikenal luas lewat Sheila on 7. Dalam proyek trilogi ini, Chandra membawakan interpretasinya sendiri terhadap lagu tersebut. Aransemen untuk lagu ini dikerjakan oleh Ivan Tangkulung dengan dukungan Budapest Scoring Orchestra, yang mengarahkan suasana musiknya menjadi lebih intim dan emosional.

Sebagai penutup rangkaian naratif ini, ada lagu berjudul “Pilihan”. Lagu terakhir ini merupakan karya yang diciptakan oleh Dee Lestari dan Keenan. Dengan begitu, ketiga lagu ini tidak hanya disatukan lewat tema dan musik, tapi juga melalui video musik yang punya kesinambungan cerita dari awal sampai akhir.

Sentuhan teater dan visual sinematik

Proyek “Dan Bila Esok” sebenarnya adalah hasil dari pengalaman artistik Chandra yang beragam. Untuk sisi visual, naskah ceritanya ditulis oleh Titien Wattimena dan Ian Davin, sementara Agung Sentausa bertindak sebagai sutradara. Kolaborasi ini membawa pendekatan visual sinematik, sehingga penonton benar-benar bisa mengikuti perkembangan kisah seiring pergantian lagu.

Keterlibatan banyak kreator dengan latar belakang berbeda ini menunjukkan bagaimana sebuah karya musik bisa dikembangkan lewat kolaborasi lintas generasi. Lagu menjadi titik awal, lalu diperkaya dengan penulisan cerita, aransemen, orkestrasi, hingga penyutradaraan untuk membangun pengalaman yang lebih menyeluruh. Di tengah tren distribusi musik digital, video musik juga punya peran penting dalam memperkenalkan karya kepada audiens, dan format trilogi memberi ruang bagi hal itu.

Berawal dari penyanyi latar Chrisye

Karier Chandra Satria sendiri sudah berkembang sejak era 1990-an. Salah satu pengalaman paling penting bagi dia adalah saat menjadi penyanyi latar Chrisye. Selain itu, dia juga terlibat dalam sejumlah pertunjukan bersama sang legenda serta beberapa penyanyi senior Indonesia lainnya. Pengalaman berada di belakang penyanyi utama ini memberinya kesempatan untuk memahami berbagai aspek pertunjukan, mulai dari cara penghayatan lagu sampai membangun hubungan emosional dengan penonton.

Seiring berjalannya waktu, Chandra mengembangkan kariernya menjadi penyanyi solo dan merilis beberapa album, seperti Dari Hati Terdalam, Ingatlah Diriku, serta Ketika Itu dan Kini. Selain di dunia rekaman, dia juga aktif di teater musikal. Chandra terlibat dalam berbagai produksi besar, mulai dari Musikal Laskar Pelangi, Ali Topan the Musical, Gita Cinta the Musical, Badai Kasih the Musical, Teater Musikal Cek Toko Sebelah, Radjiman, hingga MAR.

Pengalaman di panggung teater inilah yang membentuk pendekatan artistiknya. Dia tidak hanya dituntut menyampaikan melodi dan lirik, tapi juga harus menghidupkan karakter dan menyampaikan emosi. Latar belakang inilah yang menjadi modal utama Chandra dalam mengembangkan “Dan Bila Esok”, di mana pengalaman musik dan teater dipadukan agar cerita menjadi bagian penting dari pengalaman mendengarkan, bukan sekadar kekuatan vokal saja.

Kira-kira bakal se-emosional apa ya ceritanya kalau dikemas kayak film gini?

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.