Dari Panggung Puteri Indonesia ke Halaman Buku: Ghina Raihanah Rilis Karya Soal Menghargai Proses

Ghina Raihanah Tadjoedin, nama yang mungkin sudah nggak asing di feed kamu. Dikenal sebagai influencer dengan konten inspiratif dan sebelumnya masuk Top 6 Puteri Indonesia 2024, Ghina kini menjajal dunia kepenulisan. Tepat di momen ulang tahunnya — ia lahir 19 September 2001 — ia resmi meluncurkan buku self-development berjudul Becoming Without Arrival di Museum Macan, Jakarta Barat, Minggu (20/9).
Lantas apa sebenarnya yang ditawarkan buku ini? Seperti judulnya yang filosofis, Becoming Without Arrival mengajak pembaca merenungkan perjalanan hidup tanpa harus menunggu sampai "tiba" di suatu titik tertentu. Buku ini merangkum refleksi Ghina dari masa kanak-kanak hingga kini, dan cara dia menyampaikannya pun dipilih dengan cermat: alih-alih menggurui dengan kalimat bijak yang terasa berat di pundak, ia memilih metafora alam dan laut untuk mengajak pembaca belajar menerima serta menghargai setiap proses diri. Intinya sederhana tapi sering terlupakan — nggak perlu nunggu sempurna dulu baru boleh merasa percaya diri dan nyaman sama diri sendiri.
Bukunya juga hadir dengan sentuhan visual yang nggak main-main: dilengkapi artwork bertema laut dari para kontributor, plus ruang khusus journaling bagi para pembaca. Jadi ini bukan buku yang kamu baca sekali lalu taruh di rak. Ada ruang di sana untuk kamu ikut menuliskan perjalananmu sendiri — karena rupanya refleksi itu paling ngena kalau ditulis tangan.
Dari jurnal hukum ke diving trip, begini bukunya lahir
Di balik penampilannya yang bersinar di panggung Puteri Indonesia, Ghina punya latar belakang pendidikan hukum. Artinya, ia sangat terbiasa berkutat dengan jurnal ilmiah yang kaku, terstruktur, dan nggak ada ruang untuk metafora ombak. Maka ketika ia memutuskan menulis buku self-development, itu bukan sekadar ganti genre — itu ganti cara berpikir sepenuhnya. Ghina sendiri mengakui ini jadi tantangan baru yang seru karena harus jauh lebih kreatif dari biasanya.
Yang menarik, ide-ide untuk bukunya banyak muncul justru saat ia menyelam — hobinya di laut. Ghina bahkan mengaku menyelesaikan buku ini saat sedang dalam diving trip. Jadi sementara yang lain sibuk mengagumi terumbu karang, Ghina malah sibuk menyelami perasaannya sendiri untuk dijadikan tulisan. Ketenangan di bawah laut rupanya jadi kondisi yang paling pas buat proses kreatif yang nggak bisa dipaksakan itu.
Pesan yang relevan di era highlight reel
Esensi utama yang ingin Ghina sampaikan lewat buku ini terasa sangat relevan buat kita yang hidup di era media sosial — di mana setiap orang seolah selalu sedang "arrival", selalu sudah sukses, selalu kelihatan baik-baik saja. Ghina ingin pembacanya berhenti membandingkan diri dan mulai mencintai proses yang sedang dijalani, tanpa harus menunggu label 'sukses' dulu baru merasa layak.
"Kita terbiasa menghargai diri kalau sudah sukses atau kaya, tapi lupa menerima diri saat masih berproses. Padahal proses itu sama pentingnya," tuturnya. Kalimat itu pendek, tapi rasanya seperti ditampar pelan-pelan — yang justru itu yang dibutuhkan, bukan ceramah panjang yang bikin malas.
"Adik" yang menginspirasi sampai bikin seleb bangga
Momen peluncuran makin spesial dengan kehadiran Tsania Marwa, yang menyebut Ghina sebagai sosok adik yang justru mengajarkan banyak hal. Tsania juga membocorkan fun fact dari masa lalu: dulu waktu sekolah, Ghinalah yang minta Tsania menuliskan tugas puisinya. Dari yang dulu minta dibuatkan puisi, sekarang Ghina malah bikin buku sendiri — bukti nyata bahwa semua orang punya waktunya masing-masing untuk berkembang, dan bahwa ambisi serta konsistensi bisa membawa seseorang jauh melampaui titik awalnya.
Buku Becoming Without Arrival bukan sekadar tulisan, tapi refleksi jujur yang kemungkinan besar juga jadi suara hati banyak dari kita. Kalau Ghina yang sudah Top 6 Puteri Indonesia aja masih belajar menerima proses, rasanya nggak ada alasan bagi kita untuk terlalu keras pada diri sendiri. Yuk, siap-siap ditemani buku ini — karena kamu nggak perlu nunggu sampai "arrival" dulu untuk mulai menghargai dirimu sendiri.
