MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Film

Joko Anwar bikin horor di penjara, bawa pulang piala dari amrik!

Joko Anwar kembali bikin Indonesia bangga di panggung internasional. Film Ghost in the Cell-nya baru saja menyabet gelar Film Horor Terbaik di Fantastic Fest, festival cult bergengsi yang digelar di Austin, Amerika Serikat. Pengumuman kemenangan ini disampaikan bersamaan dengan penyerahan piala untuk seluruh kategori kompetisi — artinya, nama Ghost in the Cell disebut di depan para sineas dan penonton genre dari seluruh dunia. Auto-merinding, tapi merinding yang membanggakan.

Penjara horor ala Bang Jokan

Film ini mengambil latar di Lapas Labuhan Angsana — bukan rumah tua berdebu, bukan hutan angker, bukan juga kuburan yang jadi langganan horor Indonesia. Justru di sinilah keunikannya: setting penjara memberikan lapisan horor yang berbeda, karena tempat itu seharusnya diisi penjagaan dan otoritas, tapi malah jadi sarang teror yang tak bisa dihindari siapa pun di dalamnya.

Cerita berpusat pada Dimas, seorang jurnalis yang diperankan Endy Arfian. Dimas ini, secara harfiah, orang paling sial di film ini: dia dijebak dalam kasus pembunuhan brutal terhadap atasannya sendiri, lalu dilempar ke dalam ekosistem penjara yang sudah bobrok dari dalam. Para sipir menyalahgunakan kekuasaan, sementara hierarki narapidana tidak tertulis memaksa yang paling lemah untuk menjadi mangsa. Belum sempat napas, Dimas sudah tenggelam di tengah struktur sosial yang kejam.

Tapi horor sesungguhnya baru dimulai setelah Dimas masuk. Satu per satu tahanan tewas secara misterius dan brutal. Penjara yang sudah berbahaya tiba-tiba terasa jauh lebih gelap dari sekadar korupsi dan kekerasan antar manusia. Ngebayanginnya aja udah cukup bikin susah tidur — apalagi nontonnya.

Fantastic Fest: bukan festival kaleng-kaleng

Bagi yang belum familiar, Fantastic Fest adalah salah satu festival film paling dihormati di dunia untuk genre horor, sci-fi, fantasi, dan film-film yang berani bermain di luar batas konvensi. Festival ini bukan sekadar ajang pesta popcorn — para programmernya dikenal punya selera tajam dan tidak mudah terkesan. Karena itu, menang di sini bukan sekadar soal trofi: ini soal pengakuan dari komunitas yang memang hidup dan bernapas untuk sinema genre.

Direktur Pemrograman Fantastic Fest, Annick Mahnert, menyampaikan bahwa film-film pemenang tahun ini bukan sekadar produk hiburan biasa. Film-film pemenang kami mewujudkan suara-suara unik dan kuat dari berbagai budaya, serta generasi talenta baru yang menyenangkan dalam membentuk masa depan sinema genre, ujarnya. Pernyataan itu terasa pas sekali untuk menggambarkan Ghost in the Cell — sebuah film yang mengangkat setting sangat lokal, tapi berbicara dalam bahasa horor yang dipahami penonton mana pun di dunia.

Pemenang lain yang juga layak disorot

Di festival yang sama, program pitching Fantastic Pitches juga mengumumkan pemenangnya. Proyek Father Figure — yang digarap penulis sekaligus sutradara Connor Martin bersama produser Josh Farnworth — keluar sebagai pemenang utama. Hadiahnya bukan main: dana pembiayaan sebesar US$100 ribu dari Chroma, kesepakatan distribusi, dan hak penayangan perdana di Fantastic Fest tahun depan. Lumayan buat modal bikin mimpi jadi kenyataan.

Tapi tentu saja, momen yang paling bikin dada membusung tetap kemenangan Ghost in the Cell. Ini bukan pertama kalinya sinema Indonesia mencuri perhatian di festival internasional, tapi setiap kali terjadi, rasanya tetap sama: bangga, dan sedikit penasaran — kapan kita bisa nonton filmnya?

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.