MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Selebriti

Maudy Ayunda dan Kontroversi Mindfulness: Berhenti Scroll Berita Buruk, Emang Bisa?

JAKARTA – Siapa sih yang nggak kenal Maudy Ayunda? Penyanyi, aktris, lulusan universitas bergengsi, juru bicara pemerintah — pokoknya paket lengkap yang selalu berhasil bikin orang kagum sekaligus iri dalam waktu bersamaan. Tapi namanya juga manusia, nggak ada yang benar-benar bebas dari sorotan, apalagi kalau kamu sudah menjadikan diri sendiri sebagai figur publik dengan standar tinggi di segala bidang.

Belum lama ini, nama Maudy kembali ramai diperbincangkan. Bukan karena pencapaian baru, melainkan karena sebuah konten video yang justru memantik gelombang kritik dari warganet.

Video mindfulness yang jadi bumerang

Video berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News" diunggah Maudy pada 21 Agustus 2026. Dalam video tersebut, ia bercerita bahwa dirinya merasa kewalahan menghadapi derasnya berita buruk yang datang bertubi-tubi, baik dari dalam maupun luar negeri. Solusi yang ia tawarkan? Membatasi konsumsi berita agar tidak terus-menerus terbebani secara emosional.

Niatnya jelas baik. Kesehatan mental itu penting, dan kelelahan informasi memang nyata dirasakan banyak orang. Tapi masalahnya, tips ini tidak jatuh di ruang hampa. Ia mendarat di tengah masyarakat yang sebagian besar tidak punya kemewahan untuk sekadar "tidak membaca berita". Bagi mereka yang langsung merasakan dampak bencana alam, terjepit kesulitan ekonomi, atau hidup di bawah bayang-bayang kebijakan publik yang memengaruhi dapur dan atap rumah mereka, berita buruk itu bukan sesuatu yang bisa di-skip. Itu adalah kenyataan yang harus dihadapi setiap hari, mau tidak mau.

Banyak warganet pun mempertanyakan gagasan tersebut. Bukan karena mereka anti-mindfulness, tapi karena ada ketimpangan yang terasa kentara antara posisi seseorang yang bisa memilih untuk menjauh dari berita dan posisi seseorang yang tidak punya pilihan itu. Perdebatan soal privilege pun tak terhindarkan.

Polemik ini akhirnya berujung pada permintaan maaf terbuka dari Maudy. Satu poin plus yang perlu diakui: tidak semua figur publik mau berhenti, mendengarkan, dan merespons secara terbuka ketika dikritik. Tapi insiden ini tetap meninggalkan pertanyaan yang relevan tentang betapa tipisnya batas antara berbagi inspirasi dan tanpa sengaja meremehkan realita orang lain di era media sosial.

Bukan pertama kalinya

Yang menarik, kontroversi video mindfulness ini bukan episode pertama Maudy berada di tengah perbincangan publik yang memanas. Namanya sudah beberapa kali terseret ke pusaran perdebatan, dari berbagai sudut yang berbeda.

Isu pendidikan pernah menjadi salah satu titik panas. Sebagai seseorang yang kerap diasosiasikan dengan pencapaian akademik luar biasa, setiap pernyataannya soal pendidikan selalu ditimbang dan dibedah lebih dalam dari sekadar nilai muka. Wajar, mengingat posisinya sebagai figur yang dianggap panutan oleh banyak anak muda Indonesia.

Peran Maudy sebagai juru bicara pemerintah juga pernah menjadi bahan perbincangan. Ketika seseorang yang dikenal sebagai seniman dan akademisi melangkah ke ranah representasi pemerintah, ekspektasi publik otomatis meningkat — dan ekspektasi yang tinggi selalu membawa risiko kekecewaan yang sama tingginya.

Belum lagi persoalan pribadi yang sempat terekam dalam siaran Instagram, yang mengingatkan kita semua bahwa di era live streaming, momen privat bisa dalam hitungan detik menjadi konsumsi publik.

Beban citra panutan

Dari serangkaian kejadian ini, satu pola terlihat cukup jelas: Maudy Ayunda adalah figur yang publik taruh di atas panggung yang sangat tinggi, dan di panggung setinggi itu, setiap langkah kecil pun terlihat. Setiap kali ada celah antara citra "sempurna" yang melekat padanya dan kenyataan yang dirasakan mayoritas orang, mesin opini publik langsung bekerja.

Apakah itu adil? Mungkin tidak sepenuhnya. Tapi itulah konsekuensi yang datang bersama platform besar dan pengaruh yang luas. Pertanyaannya yang lebih menarik mungkin bukan soal siapa yang salah, tapi bagaimana seorang figur publik bisa tetap relevan dan jujur tanpa kehilangan koneksi dengan realita orang-orang yang mengidolakannya.

Sampai saat itu terjawab, kita semua — termasuk warganet yang rajin menagih — mungkin perlu sedikit latihan mindfulness juga. Tentu saja, bagi yang punya kemewahan untuk itu.

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.