MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Selebriti

Dari panggung idol ke gerobak sate: Ihsan Tarore bikin kita ngiler

Siapa sangka, penyanyi yang pernah bikin juri-juri kelas kakap Indonesian Idol terpukau kini punya 'panggung' baru yang aromanya jauh lebih menggoda: gerobak sate maranggi. Ihsan Tarore — yang namanya pernah disebut-sebut di seluruh penjuru Indonesia pada 2006 — sekarang serius menekuni dunia kuliner dengan bendera bisnisnya sendiri. Dari panggung bersorot lampu ke panggangan beraroma arang. Upgrade atau sidegrade? Dompetnya yang lebih tahu.

Buat yang belum kenal atau mungkin masih belum lahir waktu siaran itu, Indonesian Idol musim ketiga tayang mulai 21 April 2006 dan selesai 19 Agustus 2006, dengan panel juri yang nggak main-main: Indra Lesmana, Titi DJ, Dimas Djayadiningrat, dan Indy Barends — yang terakhir ini menggantikan Meuthia Kasim sebagai juri keempat. Host-nya pun berganti: VJ MTV Daniel Mananta naik panggung menggantikan Irgi Fahrezi sebagai wajah baru acara itu. Di tengah semua kemeriahan produksi sekelas itu, Ihsan muda berhasil keluar sebagai juara. Bukan hal kecil — ribuan orang ikut, satu yang menang, dan nama itu adalah Ihsan Tarore.

Karier musik memang kemudian berjalan sebagaimana roda — kadang di atas, kadang butuh strategi baru. Dan strategi baru Ihsan rupanya berbau rempah.

Sate maranggi plus lontong Medan, siapa yang complain?

Ihsan tidak asal pilih menu. Ia kini menjual sate maranggi sekaligus lontong Medan — perpaduan kuliner Jawa Barat dan Sumatera Utara yang terdengar tidak terduga, tapi secara rasa, siapa berani protes? Sate maranggi adalah kuliner legendaris yang bumbunya meresap sampai ke serat daging, jadi bahkan tanpa cocolan ekstra pun sudah auto-enak. Lontong Medan hadir sebagai pelengkap yang tidak kalah karakternya — kuah santan kental, isian padat, reputasi mengenyangkan yang sudah teruji.

"Sekarang jualan sate maranggi dan lontong Medan juga sih. Harganya mulai Rp 27 ribu kalau untuk sate marangginya," ungkap Ihsan saat ditemui di studio FYP kemarin. Kompetitif — apalagi kalau tangan yang meraciknya pernah memenangkan kompetisi nasional yang ditonton jutaan orang.

Ihsan sendiri mengaku sedang pelan-pelan membangun usaha ini. Tidak instan, tidak dadakan — namanya juga bisnis nyata, bukan babak eliminasi yang bisa diselesaikan dalam satu malam. Ada proses yang harus dinikmati, ada pelanggan yang harus dimenangkan satu per satu, dan ada konsistensi rasa yang tidak bisa dipalsu hanya dengan nama besar.

Mama Iis Dahlia turun tangan, sate langsung naik kelas

Yang bikin cerita ini makin seru: di awal-awal usahanya, Ihsan mendapat bantuan dari Iis Dahlia. Pedangdut senior itu tidak sekadar memberi semangat dari kejauhan — ia benar-benar beli produknya dan mempromosikannya ke semua media sosialnya. "Alhamdulillah waktu itu dibantuin sama mama Iis. Dia beli dan promosiin ke orang-orang dan ke semua media sosial dia," kata Ihsan. Nilai promosi organik dari seseorang sekaliber Iis Dahlia itu susah dihitung dengan kalkulator biasa. Kalau Mama Iis sudah angkat bicara di media sosialnya, algoritma pun ikut hormat — dan yang lebih penting, kepercayaan publik ikut terbawa.

Dukungan semacam itu bukan hal sepele bagi bisnis yang baru merangkak. Banyak usaha kuliner selebriti yang ramai di awal karena nama, lalu sepi karena rasanya tidak bicara sendiri. Ihsan tampaknya sadar soal ini — makanya ia memilih membangun pelan-pelan, bukan membakar semua modal nama di awal lalu kehabisan bahan bakar di tengah jalan.

Ihsan pun mengaku bersyukur bisa membangun usaha sendiri. Ada kepuasan tersendiri rupanya saat hasil kerja bisa langsung dirasakan — bukan menunggu kontrak rekaman atau jadwal manggung yang kadang lebih tidak pasti dari cuaca Jakarta. Rasa syukur itu terdengar tulus, dan dalam industri di mana banyak orang mengeluh diam-diam, kejujuran semacam itu justru jadi nilai lebih tersendiri.

Banyak selebriti memang mulai melebarkan sayap ke kuliner, tapi tidak banyak yang memulainya dengan kombinasi: menu yang dipilih dengan serius, harga yang masuk akal, dan mentor tak terduga bernama Mama Iis Dahlia. Kalau ketiga hal itu sudah ada, sisanya tinggal konsistensi — dan kalau Ihsan bisa konsisten selama bertahun-tahun di industri musik yang ganas, gerobak sate maranggi rasanya bukan tantangan yang akan membuatnya menyerah.

Jadi kalau kalian kangen suara Ihsan Tarore sekaligus lapar, mungkin ini saat yang tepat untuk datang langsung. Siapa tahu sambil nunggu sate matang, dia mau nyanyiin satu lagu bonus. Lumayan, konser mini sambil kenyang.

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.