Roland Judita bikin kaget: dari S1 sastra mandarin, lanjut akupunktur!

Roland Judita emang beda dari yang lain. Udah sukses di dunia tarik suara, pernah jadi bagian dari Indonesian Idol, dan populer dengan lagu Malaikat Kecilku. Gelar S1 Sastra Mandarin dari Tiongkok pun sudah ada di tangannya—sebuah pencapaian yang buat banyak orang mungkin sudah lebih dari cukup untuk bilang, "oke, gue udah selesai belajar." Tapi Roland rupanya punya kamus yang berbeda. Di dalam kamusnya, kata "cukup" tampaknya belum sempat dicetak.
Keputusannya buat balik ke bangku kuliah di Jakarta langsung bikin banyak orang mengernyitkan dahi. Bukan buat S2 Sastra Mandarin, bukan buat kursus vokal lanjutan, dan bukan pula buat ambil gelar yang masih satu jalur dengan karier musiknya. Roland memilih program studi D4 Akupunktur dan Herbal di RS Husada, Jakarta—dan saat ini baru saja menyelesaikan langkah pertamanya sebagai mahasiswa semester satu. Dari menguraikan makna puisi klasik Tiongkok, kini ia harus hafal titik-titik tubuh manusia yang jumlahnya tidak main-main. Kalau ini bukan plot twist karier paling mengejutkan tahun ini, entah apa lagi.
Dari literatur ke titik meridian: kenapa akupunktur?
Banyak yang penasaran: apa yang mendorong seorang penyanyi berlatar belakang sastra untuk tiba-tiba memilih jalur pengobatan tradisional? Ternyata jawabannya bukan soal tren, bukan soal iseng, dan bukan pula soal sekadar ingin punya gelar tambahan yang bisa dipajang di dinding.
Alasan Roland sangat personal dan punya bobot yang dalam. "Saya mau nerusin usaha orang tua, karena memang orang tua juga seorang akupunktur," ujarnya. Jadi bukan sekadar banting setir tanpa arah—ini adalah langkah terencana untuk menjaga kelangsungan bisnis keluarga yang sudah dibangun sebelumnya. Kalau dipikir-pikir, malah masuk akal: siapa yang lebih bisa dipercaya untuk meneruskan usaha keluarga selain anak yang mau repot-repot belajar ilmunya dari nol, bukan cuma ikut nimbrung di meja kasir?
Keputusan ini juga datang beriringan dengan pesan orang tuanya yang terus ia pegang teguh. "Saya ingat kata orang tua: waktu sangat berharga, mumpung masih muda," katanya. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi rupanya cukup kuat untuk mendorong seseorang merelakan waktu santainya demi kelas malam dan tugas-tugas yang kemungkinan besar tidak ada hubungannya sama sekali dengan tata bahasa Mandarin.
Kuliah malam, kerja siang, tetap optimis
Nah, ini bagian yang benar-benar bikin geleng-geleng kepala. Roland tidak hanya memutuskan untuk kuliah—dia memutuskan untuk kuliah sambil tetap menjalankan pekerjaannya. Siang hari ia berkegiatan seperti biasa, malamnya langsung nyambung ke kelas. Demi menjaga keseimbangan itu, ia sengaja memilih program kelas karyawan yang memang dirancang untuk orang-orang yang hidupnya tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke bangku kuliah.
"Saya bisa mengimbangi antara kuliah dan kerja. Kuliah kelas karyawan kebanyakan malam hari," katanya dengan nada yang terdengar optimis—dan semoga juga realistis, karena belajar akupunktur bukan perkara menghafal lirik lagu.
Buat sebagian besar orang, membagi waktu antara karier yang sudah berjalan dan perkuliahan baru adalah sesuatu yang terdengar melelahkan bahkan sebelum dimulai. Tapi Roland justru terkesan tenang dan yakin. Mungkin karena dia sudah pernah membuktikan dirinya mampu menuntaskan studi jauh di luar negeri—dan kalau itu bisa dilakukan, kuliah malam di Jakarta harusnya bukan halangan yang terlalu berat.
Target empat tahun, hasil memuaskan
Roland juga tidak main-main soal target. Ia sudah menetapkan bahwa program D4 ini harus selesai tepat waktu dalam empat tahun, dengan hasil terbaik. "Target empat tahun, dan mencapai hasil yang sangat memuaskan pokoknya," pungkasnya.
Kalimat itu singkat, tapi nadanya serius. Tidak ada keraguan, tidak ada "kita lihat nanti"—hanya tekad yang diucapkan dengan jelas. Dan kalau rekam jejaknya selama ini jadi patokan, rasanya Roland bukan tipe orang yang suka berhenti di tengah jalan.
Jadi buat kita yang kadang suka mager, merasa sudah cukup belajar, atau menunda-nunda hal-hal yang sebenarnya ingin dilakukan—kisah Roland Judita ini bisa jadi cerminan yang agak menyentil. Atau kalau mau yang lebih ringan: setidaknya sekarang kita tahu, kalau suatu hari punggung kita pegal dan butuh akupunktur, mungkin Roland Judita bisa jadi pilihan. Empat tahun lagi.
