MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Film

Empat Musim Pertiwi digadang-gadang ke Oscar 2027, produser Ifa Isfansyah buka suara

Jauh sebelum tiket bioskopnya bisa dipesan, Empat Musim Pertiwi sudah bikin gebrakan. Film garapan Kamila Andini ini resmi terpilih jadi wakil Indonesia menuju Academy Awards alias Oscar 2027. Produser Ifa Isfansyah akhirnya buka suara soal keputusan itu saat ditemui di sela-sela Jakarta Illustration and Creative Arts Fair (JICAF) 2026, di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

Bagi Ifa, alasan memilih film ini bukan sekadar soal kualitas sinematik di atas kertas. Menurutnya, Empat Musim Pertiwi punya sesuatu yang lebih dalam: ia benar-benar bercerita tentang konteks yang terjadi di Indonesia. Menurut saya sebagai produser, saya juga merasa film ini sangat penting merepresentasikan Indonesia. Karena kalau buat teman-teman yang nanti nonton, filmnya benar-benar bercerita tentang konteks yang terjadi di Indonesia, katanya. Konteks yang Ifa maksud adalah kegelisahan yang dirasakan banyak orang belakangan ini — kegelisahan yang ia harap juga dirasakan masyarakat Indonesia secara luas. Dengan kata lain, ini bukan sekadar tontonan, tapi semacam cermin sosial yang cukup berat untuk dipandang, tapi terlalu penting untuk diabaikan.

Selain soal isi cerita yang relevan dengan kondisi hari ini, Ifa juga menunjuk rekam jejak Kamila Andini sebagai modal besar yang tidak bisa diabaikan. Empat Musim Pertiwi adalah film kelima Kamila, dan sepanjang kariernya ia sudah membangun reputasi yang solid di kancah perfilman internasional. Bukan nama baru yang harus memperkenalkan diri dari nol, melainkan sutradara yang sudah punya tempat di peta sinema global. Saya pikir karier filmmaking, film kelimanya Kamila Andini juga sudah merupakan track record ya. Yang baik juga di internasional, terang Ifa. Artinya, ketika nama Kamila Andini muncul dalam daftar Oscar, para juri dan penonton internasional tidak perlu banyak penjelasan tambahan.

Bukti konkretnya sudah datang bahkan sebelum film ini tayang di Indonesia. Empat Musim Pertiwi baru saja menjalani world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 — salah satu festival film paling prestisius di dunia — sebelum kemudian melangkah ke Busan International Film Festival (BIFF) 2026, bersaing dalam program A Window On Asian Cinema. Dua festival kelas dunia dalam satu musim bukan pencapaian kecil, dan bagi Ifa, itu artinya campaign Oscar-nya tidak perlu mulai dari titik nol. Reputasi sudah berjalan duluan.

Sinopsis yang bikin nyesek

Empat Musim Pertiwi, yang diproduksi oleh Forka Films, mengangkat kisah emosional seorang perempuan bernama Pertiwi, diperankan oleh Putri Marino. Setelah dua puluh tahun berkelana, Pertiwi memutuskan pulang ke tanah kelahirannya. Tapi alih-alih disambut hangat, dia malah dihadapkan pada kenangan masa lalu yang berat — dan yang bikin nyesek, kepulangannya justru ditolak warga desa bahkan keluarganya sendiri. Bukan penolakan kecil yang bisa dilupakan setelah secangkir teh, tapi konfrontasi dengan seluruh lapisan identitas, rumah, dan rasa memiliki yang selama dua dekade ia coba tinggalkan.

Perjalanan itu kemudian menuntun Pertiwi menemukan kekuatan tersembunyi, arti sesungguhnya dari rumah, makna keluarga, dan akhirnya kedamaian. Dari premisnya saja sudah tercium aroma film yang bisa bikin nangis sambil mikir keras — cocok banget dengan konteks kegelisahan yang Ifa sebut tadi. Ada benang merah yang kuat antara tema film dan alasan ia dipilih sebagai wakil Indonesia: keduanya bicara tentang sesuatu yang sedang kita cari bersama.

Soal jadwal: film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026, bertepatan dengan jadwal BIFF 2026. Jadi tepat ketika Empat Musim Pertiwi mampir ke layar lokal, reputasi internasionalnya sudah berjalan beberapa langkah di depan. Bukan posisi yang buruk untuk memulai percakapan soal Oscar.

Jalan panjang menuju piala emas

Meskipun Ifa dan timnya sudah pede — dan ada alasan kuat untuk itu — perjalanan menuju Oscar itu panjang dan berliku. Dipilih sebagai wakil Indonesia baru langkah pertama. Setelah ini masih ada seleksi berlapis, campaign yang butuh strategi matang, dan persaingan dengan film-film terbaik dari seluruh dunia. Tapi dengan rekam jejak Kamila Andini yang konsisten menghadirkan cerita kuat secara visual dan naratif, ditambah akting Putri Marino dan komitmen Ifa sebagai produser yang percaya penuh pada proyek ini, kita boleh pasang ekspektasi yang tidak kecil.

Saya juga merasa film ini memang layak mewakili Indonesia menuju Oscar 2027, tegas Ifa. Kalimat itu singkat, tapi beratnya terasa. Karena di baliknya ada dua puluh tahun perjalanan Pertiwi, karier panjang Kamila Andini, dan kegelisahan kolektif yang rupanya cukup universal untuk dibawa ke panggung dunia.

Siapa tahu, tahun 2027 nanti, nama Indonesia benar-benar disebut di Dolby Theatre. Kalau sampai itu terjadi, kegelisahan Pertiwi rupanya menular sampai ke Los Angeles.

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.