Intern versi Korea: Choi Min-sik jadi anak magang paling senior sejagat bioskop

Warner Bros Indonesia resmi mengumumkan The Intern versi Korea akan hadir di bioskop Indonesia mulai 30 Oktober. Pengumuman ini datang bersamaan dengan dimulainya masa promosi resmi film tersebut, ditandai dengan unggahan dari pihak distributor: "Mulai bertugas hari ini. Hubungan kerja lintas generasi. THE INTERN hadir di bioskop mulai 30 Oktober!"
Kalau kamu pernah nonton versi aslinya yang dibintangi Robert De Niro dan Anne Hathaway, kamu sudah punya gambaran dasarnya. Tapi versi Korea ini bukan sekadar tempel nama baru ke cerita lama — ia hadir dengan dua nama yang beratnya sendiri-sendiri, Choi Min-sik dan Han So-hee, dan dengan latar dunia kerja Korea yang punya ritme dan tekanannya sendiri.
Dari thriller ngeri ke magang gemes
Begitu dengar nama Choi Min-sik, yang pertama terlintas biasanya bukan sosok yang repot-repot menata meja kerja dengan rapi sambil membawa camilan dari rumah. Tapi itulah yang terjadi di sini. Beliau berperan sebagai Ki-ho, seorang pekerja senior dengan pengalaman 37 tahun yang memutuskan kembali ke dunia kerja — sebagai pemagang. Banting setir yang nggak main-main, dan jelas bukan keputusan yang diambil oleh orang yang kehabisan ide.
Di sisi lain, Han So-hee berperan sebagai Sun-woo, CEO perusahaan mode rintisan bernama Wootutu yang ambisius dan gila kerja. Dua karakter dengan jurang pengalaman dan generasi yang sangat lebar ini kemudian harus belajar mengimbangi satu sama lain di tempat kerja yang sama. Dari sanalah semua dinamika — dan kemungkinan besar, semua rasa gemas penonton — dimulai.
Wawancara paling jujur sepanjang sejarah HRD
Dalam teaser yang pertama kali dirilis di Korea, Ki-ho sudah langsung memperlihatkan karakter uniknya sejak tahap wawancara kerja. Saat dihadapkan pada pertanyaan klasik soal kelebihan dan kekurangan oleh Wakil Presiden Young-hwan (Kim Jun-han), ia menjawab dengan tenang dan jenaka: "Kelebihan saya adalah saya memiliki banyak pengalaman, sedangkan kekurangan saya adalah saya juga sudah cukup tua."
Jawaban itu, yang mungkin akan membuat sebagian besar pelamar kerja lain keringat dingin, justru cukup untuk mengantarkan Ki-ho mendapat kartu identitas magang di Wootutu. Hari pertama kerja pun langsung menjadi pertunjukan tersendiri — ia tiba dengan setelan jas rapi dan tas kerja, lalu mulai menata mejanya dengan cermat: roti isi krim, camilan tradisional Korea, botol minum, jam meja, tempat pensil, hingga tinta. Ini bukan sekadar meja kerja. Ini deklarasi bahwa Ki-ho datang serius, dengan caranya sendiri.
Adegan-adegan kecil seperti inilah yang menjadi kekuatan premis semacam ini. Bukan ledakan dramatis, bukan konflik besar di awal — tapi detail-detail yang membangun karakter secara perlahan dan membuat penonton mulai peduli sebelum mereka sadar.
Generasi bertabrakan, cerita yang makin relevan
Premis film ini memang bukan hal baru. Benturan perspektif antara yang senior dan yang muda, antara pengalaman panjang dan ritme kerja yang serba cepat, adalah konflik yang sudah ada jauh sebelum ada kata "generasi" pun. Tapi justru di situlah relevansinya tidak pernah basi. Di era sekarang, gap antar-generasi di tempat kerja adalah topik yang makin sering muncul di mana-mana — dari obrolan santai hingga perdebatan serius soal budaya kerja. The Intern menyajikan semua itu dengan kemasan yang terasa ringan, tapi bisa mengena kalau digarap dengan tepat.
Film ini disutradarai Kim Do-young, yang sebelumnya dikenal lewat Once We Were Us (2025), sebuah film romantis yang juga merupakan adaptasi — kali itu dari film China Us and Them (2018). Adaptasi tampaknya memang menjadi wilayah yang ia kuasai dengan baik, dan The Intern menjadi proyek berikutnya dalam jalur itu.
Film ini sendiri sudah lebih dulu tayang di Korea sejak 16 September, jadi respons awal dari penonton Korea sudah bisa mulai terbaca saat artikel ini kamu baca. Kini giliran penonton Indonesia. Siapkan tisu kalau perlu, siapkan juga perut — 30 Oktober, bioskop sudah menunggu.
