MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Hiburan

Isak tangis iringi pemakaman Den Baguse Ngarso, seniman legendaris Jogja

via Instagram @susilonugroho

Susilo Nugroho, seniman teater yang lebih akrab disapa Den Baguse Ngarso, telah pergi di usia 67 tahun. Bagi yang tumbuh besar dengan lawakan Jogja era 80-an dan 90-an, nama itu pasti sudah melekat di ingatan—sosok dengan karakter kuat dan guyonan khas yang nggak cuma bikin ketawa, tapi juga nyelekit dan penuh arti.

Prosesi pemakaman penuh haru

Suasana duka menyelimuti kediaman mendiang di Mantrijeron, Kota Jogja, siang tadi, Selasa (22/9). Pelayat dari berbagai kalangan silih berganti berdatangan untuk mengucapkan salam terakhir kepada seniman kondang era 80 dan 90-an itu. Bukan sekadar formalitas—mereka datang karena memang merasa kehilangan sesuatu yang nyata: sosok yang telah mewarnai dunia kesenian Yogyakarta selama puluhan tahun.

Tepat pukul 15.00 WIB, ibadah penghiburan dan pelepasan jenazah digelar. Setelahnya, jenazah Den Baguse Ngarso diantar menuju peristirahatan terakhirnya di TPU Krapyak, Sewon, Bantul. Di sinilah isak tangis benar-benar pecah dari keluarga mendiang. Putri mendiang dan sang istri tampak tak kuasa menahan kesedihan saat jenazah dikebumikan—pemandangan yang mengingatkan betapa di balik seorang seniman publik, ada keluarga yang mencintainya jauh lebih dalam dari sekadar penonton. Prosesi pemakaman selesai sekitar pukul 16.35 WIB.

Sang juru roasting dengan sentuhan lembut

Alit Jabang Bayi, salah satu rekan seniman mendiang, hadir di rumah duka dan berbicara tentang sosok Den Baguse Ngarso dengan penuh penghormatan. Bagi Alit, mendiang bukan sekadar pelawak—ia adalah seniman yang memiliki keberanian dan gaya khas dalam menyampaikan humor.

Yang paling menonjol, menurut Alit, adalah kemampuan Den Baguse Ngarso untuk me-roasting kliennya sendiri. Bukan sembarang klien—melainkan orang-orang besar, orang-orang penting. Dan ia melakukannya bukan dengan cara yang menyerang atau mempermalukan, melainkan dengan sentuhan yang soft. Kritik yang paling tajam sekalipun keluar dalam bungkus yang membuat orang tertawa sebelum menyadari bahwa mereka baru saja dikritik. Itu bukan keberanian biasa. Itu kecerdasan yang langka, dan kecerdasan semacam itu tidak bisa dipelajari hanya dari buku.

Bahkan satu-satunya seniman yang berani roasting kepada kliennya adalah beliau. Pak Susilo bisa roasting orang-orang tinggi, orang besar, tapi dengan soft, ujar Alit saat ditemui di rumah duka.

Warisan yang tak mudah digantikan

Kepergian Den Baguse Ngarso meninggalkan lubang yang terasa besar di kancah kesenian Yogyakarta. Alit tidak menyembunyikan rasa kehilangannya—dan ia tahu ia tidak sendirian. Jangankan saya (kehilangan), orang-orang dan teman-teman saya juga, katanya.

Itu kalimat yang sederhana, tapi beratnya terasa. Di dunia kesenian yang terus berputar dan melahirkan nama-nama baru, sosok seperti Den Baguse Ngarso—yang mampu menjadikan humor sebagai medium kritik sosial yang halus namun menghujam—tidak datang dua kali. Ia membuktikan bahwa lawakan bisa jadi lebih dari sekadar hiburan; bisa jadi cara untuk berbicara yang justru didengar lebih keras daripada pidato mana pun.

Yogyakarta hari ini melepas salah satu seniman terbaiknya. Selamat jalan, Den Baguse Ngarso.

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.