MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Gaya hidup

7 kata basi di cv yang bikin hrd auto-skip (dan cara menggantinya)

Pexels

Gengs, di era serba digital ini kita sibuk poles feed Instagram, bikin konten TikTok yang FYP, sampai atur estetika story. Tapi ada satu dokumen 'jadul' yang masih super penting buat citra profesional kita: CV. Mau apply magang di agensi keren, daftar beasiswa, atau coba peruntungan di dunia kerja — CV tetap jadi garda terdepan.

Masalahnya, HRD itu ibarat juri ajang pencarian bakat. Mereka baca puluhan bahkan ratusan CV untuk satu posisi, dan mereka sudah hafal luar kepala kata-kata yang sama terus muncul di hampir setiap lembar yang masuk ke meja mereka. Kalau CV kamu penuh klaim manis tapi kosong bukti, siap-siap aja diskip tanpa basa-basi. Ini dia tujuh kata yang sebaiknya kamu coret sekarang juga — dan apa yang sebaiknya kamu tulis sebagai gantinya.

1. Dinamis

Kata ini sudah muncul di hampir setiap CV sampai kehilangan makna sepenuhnya. HRD baca kata dinamis, langsung blank — dinamis gimana, dalam konteks apa, dan apa buktinya? Daripada melabeli diri sendiri, ceritakan situasi nyata di mana kamu beradaptasi cepat menghadapi tantangan atau mengambil tanggung jawab besar secara mendadak. Itu jauh lebih berkesan dan jauh lebih sulit untuk dipalsukan.

2. Mampu bekerja sama dalam tim

Ini setara dengan nulis saya bisa bernapas di CV — standar minimum yang diasumsikan semua orang punya. Yang membedakan kamu bukan klaimnya, tapi cerita di baliknya: proyek apa yang kamu kerjakan bersama orang lain, peran spesifik kamu di dalam tim itu, dan hasil konkret yang dicapai bersama. Kalau bisa dikuantifikasi, lebih bagus lagi.

3. Bertanggung jawab

Siapa yang mau ngaku nggak bertanggung jawab di CV? Nggak ada. Makanya kata ini nggak memberi informasi apa pun ke HRD — semua orang nulisnya, jadi nggak ada yang menonjol. Ganti dengan menyebut secara spesifik apa yang kamu kelola: tim berapa orang, anggaran berapa besar, proyek dengan tenggat seperti apa — dan apa yang berhasil kamu capai dari situ.

4. Pekerja keras

Semua orang ngaku pekerja keras. Tapi HRD nggak bakal percaya begitu saja hanya karena kamu bilang begitu — mereka butuh bukti. Alih-alih klaim abstrak soal dedikasi, tunjukkan hasilnya: target penjualan yang terlampaui, proyek yang selesai sebelum deadline, atau angka peningkatan yang bisa kamu pertanggungjawabkan. Satu data konkret jauh lebih meyakinkan daripada satu paragraf tentang betapa kerasnya kamu bekerja.

5. Komunikatif

Kemampuan komunikasi memang penting di hampir semua pekerjaan — tapi kata komunikatif sendirian nggak menjelaskan apa-apa. Kamu komunikatif ke siapa? Dalam konteks apa? Dengan hasil seperti apa? Kalau komunikasi adalah bagian besar dari pekerjaanmu, ceritakan: pernah presentasi ke klien, koordinasi dengan tim lintas divisi, atau menulis konten yang menjangkau audiens tertentu. Itu baru komunikatif yang bisa dipercaya.

6. Perfeksionis

Ini yang sering dikira aman padahal bisa jadi bumerang. Banyak kandidat pakai kata perfeksionis sebagai cara elegan untuk bilang "saya sangat teliti" — tapi HRD yang berpengalaman bisa membacanya sebagai tanda seseorang yang lambat mengambil keputusan atau sulit mendelegasikan. Kalau kamu memang sangat memperhatikan detail, tunjukkan lewat hasil kerja nyata: akurasi laporan yang meningkat, tingkat revisi yang berkurang, atau standar kualitas yang kamu terapkan secara konsisten. Tanpa perlu label.

7. Penuh semangat / passionate

Kata passionate sudah begitu sering dipakai di CV dan LinkedIn sampai kedengarannya hampa. Semua orang bilang passionate, tapi nggak semua bisa membuktikannya di atas kertas. Kalau kamu benar-benar tertarik dan berdedikasi di suatu bidang, tunjukkan lewat tindakan nyata: proyek apa yang sudah kamu kerjakan secara mandiri, portofolio apa yang kamu bangun, atau keahlian apa yang kamu kembangkan sendiri di luar jam kerja atau kuliah. Itu baru passion yang kelihatan.

Intinya sederhana: CV yang kuat bukan soal kata-kata yang terdengar keren atau berkesan canggih. Yang dicari HRD adalah informasi yang jelas, spesifik, dan bisa diverifikasi. Kalau sebuah klaim bisa diganti dengan angka atau contoh konkret, ganti. Kalau nggak ada bukti yang bisa kamu tulis di sampingnya, mungkin memang belum saatnya klaim itu masuk CV. Selamat bersih-bersih!

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.