Selamat jalan, Den Baguse Ngarso: perjalanan sang legenda yang mengubah siaran penyuluhan jadi tontonan wajib

Susilo Nugroho tutup usia pada Senin, 21 September 2026, sore hari di kediamannya. Almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Krapyak, Sewon, Bantul — tempat makam keluarga — hari itu juga pukul 16.00 WIB. Kabar duka disampaikan langsung oleh kakak almarhum, Sukanti, di rumah duka Mantrijeron, Kota Jogja. Kepergiannya meninggalkan duka yang nyata bagi dunia seni peran dan komedi, dan bagi jutaan penonton yang sudah puluhan tahun akrab dengan karakter bapak keras kepala yang ia hidupkan di layar kaca.
Siapa bilang nama Susilo Nugroho?
Bagi generasi akhir abad ke-20, nama Susilo Nugroho mungkin perlu dipikir sebentar — tapi sebut saja "Den Baguse Ngarso", dan semua orang langsung ngeh. Karakter dari sitkom legendaris Mbangun Deso itu sudah sedemikian melekat pada dirinya hingga masyarakat jauh lebih mengenalnya lewat nama tokoh daripada nama aslinya sendiri. Ini bukan sekadar soal popularitas: ini soal bagaimana seorang aktor bisa begitu meresap ke dalam imajinasi kolektif suatu generasi sampai batas antara pemeran dan karakter nyaris tak terlihat.
Mbangun Deso tayang di TVRI Jogja sekitar 1988 hingga 2008 dan mencapai puncak popularitasnya di era 1990-an. Di luar Den Baguse Ngarso, sitkom ini juga menghadirkan karakter-karakter ikonik lain: Pak Bina diperankan Heru Kesawa Murti, Sronto oleh Sudiharjo, dan Kuriman oleh Sepnu Heryanto. Kolaborasi mereka menjadikan tayangan lokal ini punya kekhasan yang sulit ditandingi.
Dari panggung kampung sampai layar televisi
Perjalanan Susilo di dunia seni peran dimulai sejak ia masih berseragam putih abu-abu, sekitar tahun 1977 — dan jiwa seninya sebenarnya sudah tumbuh jauh sebelum itu, sejak bangku sekolah dasar. Dari panggung-panggung kampung, ia terus mengasah bakat dengan bergabung ke berbagai kelompok teater, di antaranya Teater Kita-Kita Yogyakarta dan Teater Apa Yogyakarta, sebagaimana tercatat dalam buku Orang-Orang Panggung DIY karya Herry Mardianto dkk.
Namun jangan bayangkan perjalanan itu mulus. Di awal karier panggung sandiwaranya, Susilo merasakan titik terendah saat mementaskan Menunggu Godot. Kritik pedas berdatangan karena aktingnya dianggap kurang apik. Tekanan bertubi-tubi itu sempat membuatnya beralih ke seni dagelan, ketoprak, dan sinetron. Dari "pelarian" itulah justru ia menemukan jalur lain untuk berkembang — dan tanpa jalur itu, Den Baguse Ngarso mungkin tidak pernah ada.
Yang membuat perjalanan ini makin luar biasa: seluruh kemampuan aktingnya diperoleh secara otodidak. Tidak ada sekolah seni, tidak ada kuliah seni. Saya itu enggak sekolah seni, enggak kuliah seni. Nek ditakoni teori ya ora ngerti. Ya cuma senang saja terus ikut, begitu katanya sendiri. Hanya kecintaan yang terus dirawat sejak kecil dan kemauan keras untuk terus terlibat. Bukti yang sulit dibantah bahwa rasa cinta bisa menggantikan banyak hal yang diajarkan di dalam kelas.
Ide brilian yang mengubah segalanya
Bagaimana Susilo bisa sampai ke Mbangun Deso dan memerankan Den Baguse Ngarso? Semuanya bermula saat ia masih aktif bermain drama dan ketoprak di studio TVRI Jogja. Kala itu, Mbangun Deso tidak mendapat sambutan hangat karena terlalu padat materi penyuluhan — jenis program yang punya kemampuan luar biasa untuk membuat penonton mengantuk di depan televisi.
Susilo melihat potensi yang terpendam. Ia mengusulkan agar materi penyuluhan dipersingkat dan porsi cerita serta humor diperbanyak. Pihak TVRI tidak langsung percaya begitu saja — mereka menantangnya membuktikan ide itu. Susilo pun berkolaborasi dengan rekannya untuk menulis naskah baru. Mbangun Deso disulap menjadi drama komedi yang tetap membawa pesan, dikemas secara menghibur: sinetron pendek berisi humor yang tetap disisipkan penyuluhan sesuai dinas yang meminta. Isinya sinetron pendek, ada unsur humornya, tapi tetap disisipi penyuluhan sesuai dinas yang meminta, jelasnya. Program yang hampir tidak ada yang menonton berubah menjadi acara yang selama dua dekade bertahan di layar dan di ingatan penonton.
Warisan yang tidak akan padam
Susilo tidak berhenti di televisi. Pertunjukan ketoprak besutannya yang pertama, berjudul Minggat, digelar pada akhir Desember 2004 hingga awal 2005. Dan di balik semua kesibukan seninya, ia juga menjalani keseharian sebagai guru ekonomi di SMKN 1 Bantul — dimensi hidupnya yang mungkin tidak banyak disadari oleh penggemarnya yang mengenalnya semata-mata sebagai Den Baguse Ngarso. Sepak terjangnya di seni dan pendidikan menghasilkan sederet penghargaan selama hidupnya.
Kisah Susilo Nugroho adalah tentang seseorang yang pernah gagal, lalu memilih untuk tidak berhenti — dan dari kegigihannya itu lahirlah sesuatu yang bertahan jauh melampaui dirinya. Raganya kini telah pergi, tapi karakter yang ia ciptakan dan kembangkan selama puluhan tahun itu sudah terlanjur menjadi bagian dari memori kolektif Indonesia. Selamat jalan, Den Baguse Ngarso.
