Susilo Nugroho, den baguse ngarso yang bikin Jogja kehilangan 'akal sehat'

Dunia seni Yogyakarta berduka. Susilo Nugroho, seniman yang kita kenal lewat karakternya Den Baguse Ngarso di serial Mbangun Desa yang disiarkan TVRI sekitar era 1990-an, meninggal dunia pada Senin (21/9/2026). Kepergiannya membuat Jogja kehilangan sosok yang oleh banyak orang disebut bukan sekadar pelawak — melainkan guru.
Nama Den Baguse Ngarso mungkin terasa jauh bagi generasi yang tumbuh dengan konten pendek di layar kecil. Tapi bagi siapa pun yang pernah duduk di depan televisi di era itu, karakter itu adalah wajah familiar: ceplas-ceplos, cerdas, dan selalu punya sesuatu untuk dikatakan — bahkan ketika yang ia katakan adalah sindiran halus kepada kekuasaan. Di sinilah letak kehebatan Mas Susilo: ia bisa membuat penonton tertawa, lalu diam, lalu berpikir. Semuanya dalam satu tarikan napas.
Bukan hanya layar kaca yang jadi panggungnya. Mas Susilo juga dikenal di dunia teater, termasuk lewat Teater Gandrik — salah satu kelompok teater paling berpengaruh di Yogyakarta. Di sana, ia bersama seniman-seniman lain membawakan pentas yang tidak cuma menghibur, tetapi juga penuh kritik sosial yang dibalut guyonan khas Jawa. Dari Mbangun Deso sampai Teater Gandrik, jejak Mas Susilo terukir panjang di jagat kesenian kota ini.
Seniman dan budayawan Bambang Paningron adalah salah satu yang paling vokal menyuarakan kehilangan ini. Baginya, Mas Susilo adalah figur yang tidak tergantikan. Jogja kehilangan salah satu penjaga akal sehatnya. Mas Susilo Den Baguse Ngarso itu bukan sekadar pelawak. Dia adalah guru yang memilih panggung sebagai ruang kelasnya. Dari Mbangun Deso sampai Teater Gandrik, beliau mengajarkan kita bahwa kritik bisa disampaikan dengan guyon, tapi guyonannya tidak pernah kosong, katanya. Bambang juga mengenang keberanian Mas Susilo memberikan kritik kepada pemerintah — selalu dikemas dalam guyonan yang cerdas, tidak pernah kosong, selalu punya kedalaman.
Humor yang berisi seperti itu bukan sesuatu yang bisa dipelajari dari buku. Ia lahir dari kepekaan terhadap sekitar, dari kesadaran bahwa panggung adalah ruang publik yang punya tanggung jawab. Mas Susilo tampaknya paham betul hal ini. Ia tidak sekadar mengisi waktu luang penonton — ia mengajak mereka berpikir, lewat jalur yang paling menyenangkan: tawa.
Soal keseharian, Mas Susilo dikenal sederhana dan merakyat. Ia punya kebiasaan tidur tengah malam atau bahkan lewat tengah malam, dan sering bersenda gurau di angkringan yang berada di seberang rumahnya di Jalan Cuwiri, Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Bukan sosok yang gemar tampil mewah atau jauh dari jangkauan — justru sebaliknya. Angkringan pinggir jalan adalah ruang sosialnya, tempat ia hadir sebagai tetangga biasa, bukan ikon.
Soal makan pun ia hati-hati. Keluarganya menceritakan bahwa Mas Susilo tidak pernah makan nasi — ia memilih jagung, dengan porsi yang tidak banyak, dan tidak pernah mengeluh soal apa pun. Sukanti menyebut banyak anggota keluarganya memiliki riwayat diabetes, tapi tidak demikian dengan Mas Susilo.
Senin sore itu, saat Mas Susilo tak kunjung bangun dari tidurnya, keluarga mulai curiga. Mereka mengundang ketua RW setempat yang merupakan tenaga medis. Sebagai profesional, ketua RW tidak berani memastikan kondisi Mas Susilo hanya dari pengamatan visual — sehingga beliau harus dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan dengan peralatan yang lebih valid. Jenazahnya sempat berada di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta.
Kepergian Susilo Nugroho meninggalkan lubang besar di dunia seni dan budaya Indonesia. Ia membuktikan bahwa humor bukan sekadar hiburan — ia adalah alat untuk kritik, refleksi, dan pada akhirnya, pendidikan. Tidak banyak seniman yang bisa mengklaim warisan seperti itu. Mas Susilo bisa.
Selamat jalan, Den Baguse Ngarso. Guyonanmu tidak pernah kosong — dan itu tidak akan kita lupakan.
