MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Musik

Drama ed sheeran: ditinggal teman dan kru gara-gara macklemore, sampai nangis di panggung

Ed Sheeran, penyanyi yang selama ini dikenal dengan lagu-lagu akustik romantis yang enak diputar saat hujan-hujanan sambil baper, baru-baru ini bikin heboh bukan karena single baru — melainkan karena terlihat menangis tersedu-sedu, duduk bersila di atas panggung konsernya di Lincoln Financial Field, Philadelphia, Sabtu malam lalu. Bukan nangis terharu karena momen indah. Nangis karena merasa ditinggalkan.

Semua berawal dari satu keputusan

Ceritanya dimulai saat Ed memutuskan untuk mengeluarkan rapper Macklemore dari Loop Tour miliknya. Alasannya: komentar pro-Palestina yang dilontarkan Macklemore. Keputusan itu langsung meledak jadi kontroversi besar — dan reaksi yang datang tidak tanggung-tanggung.

Satu per satu, semua artis pembuka yang seharusnya tampil di tur Ed mengundurkan diri sebagai bentuk solidaritas dengan Macklemore. Itu saja sudah cukup bikin pusing. Tapi yang paling bikin sesak, band pengiring Ed sendiri — orang-orang yang selama ini ada di panggung bersamanya, yang tahu persis chord favoritnya dan hafal set list-nya — ikut angkat kaki. Ini bukan sekadar drama industri musik. Ini terasa personal.

Ed sendiri mengakui hal itu. Dalam situasi seperti ini, Anda benar-benar akan mengetahui siapa teman sejati Anda. Ini adalah minggu yang aneh, katanya kepada penonton dalam video yang direkam oleh seorang penggemar. Semuanya terjadi sangat cepat, katanya — dan di tengah kecepatan itu, banyak orang yang sudah dia kenal bertahun-tahun mulai menjauh.

Batalkan atau tidak? Ed memilih tetap tampil

Tekanan untuk membatalkan tur datang dari berbagai arah. Teman-teman menyarankannya berhenti. Keluarga pun rupanya ikut dalam barisan yang mendorongnya mundur. Semua orang menyuruh saya untuk membatalkan dan saya merasa semua teman dan keluarga saya serta orang-orang yang saya kenal meninggalkan saya, ujarnya.

Tapi Ed tidak batalkan. Dan alasannya cukup kuat untuk dibela: dalam benaknya, yang dia lihat bukan angka pembatalan tiket — melainkan puluhan ribu orang yang sudah membeli tiket, sudah memesan penginapan, sudah mengatur jadwal, dan sudah menunggu. Dalam benak saya, saya melihat penjualan tiket untuk pertunjukan ini dan saya tidak melihat pembatalan, saya melihat orang-orang membeli tiket untuk pertunjukan ini, katanya.

Membatalkan konser sebesar itu bukan cuma soal kerugian finansial — meskipun kerugiannya pasti tidak kecil. Ini soal tanggung jawab terhadap orang-orang yang sudah percaya padanya jauh sebelum kontroversi ini meledak.

Panggung tanpa bagian tengah, dan rasa takut yang nyata

Sebelum konser dimulai, Ed mengambil langkah keamanan yang tidak biasa: panggung di tengah arena dihilangkan. Bukan keputusan artistik. Keputusan itu diambil karena Ed khawatir orang-orang akan melemparinya dengan benda-benda saat dia tampil. Bayangkan kondisi mentalnya malam itu — naik ke panggung dengan perasaan ditinggalkan orang terdekat, takut dicemooh, takut dilempari sesuatu, tapi tetap memilih hadir.

Dan kemudian, sesuatu yang tidak dia duga terjadi: 50.000 orang itu tidak pergi. Mereka ada di sana, dan mereka bernyanyi bersamanya.

Ini adalah pertunjukan terbaik dalam hidup saya

Di tengah konser itulah Ed akhirnya menangis. Bukan karena sedih semata — tapi karena merasakan kontras yang luar biasa antara minggu paling berat dalam hidupnya dengan momen di depannya saat itu. Saya melihat di akhir minggu dan saya melihat 50.000 orang yang belum meninggalkan saya, katanya.

Dia menyebut konser itu sebagai pertunjukan terbaik dalam hidupnya, sekaligus mengakui bahwa minggu sebelumnya adalah salah satu yang terburuk. Dua hal yang ekstrem itu terjadi dalam satu napas — dan itulah yang membuatnya menangis di atas panggung, duduk bersila, di hadapan puluhan ribu orang.

Orang-orang akan mengatakan apa pun yang mereka inginkan, tetapi saya melakukan ini untuk kalian. Saya mencintai kalian. Saya mencintai ini, ucapnya.

Dia juga sempat berbicara tentang perasaannya terhadap dunia saat ini: Dunia saat ini adalah tempat yang menakutkan, Amerika saat ini adalah tempat yang menakutkan — sebelum menunjuk ke arah penonton dan menambahkan bahwa semua itu memberinya harapan.

Di balik gemerlap lampu panggung dan lagu-lagu yang hafal di luar kepala jutaan orang, ada seorang manusia biasa yang sedang mencoba bertahan di tengah tekanan yang tidak ringan — dan memilih untuk tetap hadir bagi orang-orang yang masih ada untuknya.

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.