MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Gaya hidup

Amanda Rigby dulu punya kafe hits: sekarang lagi bahagia-bahagianya, ya?

via Instagram @amandarigby6

Nama Amanda Rigby belakangan sering disebut-sebut — dan bukan cuma soal dunia hiburan. Begitu namanya ramai diperbincangkan, jejak bisnisnya di masa lalu pun ikut tergali. Ternyata, sebelum nama Rigby's Coffee dilupakan orang, kafe itu sempat punya masa kejayaannya sendiri.

Kafe ini dibuka Amanda sekitar tahun 2016 di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan — bukan dengan modal investor, bukan juga dari endorse-endorse dadakan, tapi murni dari tabungan hasil syuting. Itu yang bikin ceritanya menarik: aktris yang memilih terjun langsung ke dunia usaha dengan duit sendiri, dengan risiko yang juga ditanggung sendiri. Konsep Rigby's Coffee cukup punya karakter — nuansa hitam putih klasik yang bikin tempatnya terasa beda dari kafe-kafe generik, dilengkapi area indoor dan outdoor yang cocok untuk nongkrong santai maupun acara yang lebih serius. Menu kopinya lumayan lengkap: espresso, long black, cappuccino, sampai latte, dengan harga mulai Rp 20 ribu — angka yang kala itu terbilang terjangkau untuk kawasan TB Simatupang. Sesekali mereka berkolaborasi menghadirkan menu seperti chicken salted egg, dan tempatnya juga difungsikan sebagai venue untuk bridal shower hingga live music. Sayangnya, semua itu kini tinggal kenangan — Rigby's Coffee sudah tidak beroperasi.

Kisah berbeda datang dari Yogyakarta, dan nadanya jauh lebih bikin kesal. Bolosego, warung yang terkenal dengan menu-menu serba mercon, mendadak viral bukan karena inovasi masakan, tapi karena pemiliknya, Dyah Fardisa, mengaku diminta membayar biaya paguyuban parkir saat hendak berjualan di Alun-Alun Kidul. Rencana awalnya mau buka lapak selama lima hari — pada akhirnya hanya bisa sehari. Sehari. Bayangkan persiapannya, bahannya, ekspektasinya — dan semua itu berhenti dalam waktu dua puluh empat jam karena dugaan pungutan yang seharusnya tidak ada.

Di balik polemik itu, Bolosego punya alasan kuat untuk tetap bertahan. Menu andalannya, iga mercon, dibuat dengan rempah pilihan dan gula Jawa yang berfungsi menyeimbangkan rasa pedas — bukan sekadar panas yang menyiksa, tapi pedas yang punya lapisan rasa. Harganya sekitar Rp 53 ribu seporsi. Selain iga mercon, ada ceker mercon tanpa tulang, oseng meteyor, cumi lombok ijo, dan ayam kampung — semuanya tersedia di tiga cabang. Bukti bahwa resep yang kuat memang bisa bikin bisnis bertahan, meski jalannya tidak selalu mulus.

Lalu ada Jalan Sabang di Jakarta Pusat, yang ceritanya sama sekali berbeda: bukan soal yang baru buka lalu tutup, bukan soal drama viral, tapi soal tempat-tempat yang sudah ada sebelum sebagian besar dari kita lahir dan masih tegak berdiri sampai sekarang. Natrabu Minang Restaurant berdiri sejak 1958 — artinya sudah lebih dari enam dekade melayani pelanggan dengan rendang dan dendeng batokok sebagai andalan. Sate Kambing Jaya Agung mulai buka pada 1963, disusul Sate Pak Heri Asli yang hadir sejak 1974. Ketiganya sudah melewati pergantian tren kuliner yang tak terhitung jumlahnya, dan masih relevan sampai hari ini. Buat yang lebih suka sesuatu yang lebih ringan, Sakura Anpan hadir dengan roti dan kue jadul yang susah ditemukan di tempat lain, sementara Bakmi Roxy Sabang sudah jadi favoritas sejak era 1990-an. Jalan Sabang adalah bukti nyata bahwa rasa yang jujur dan konsisten itu punya daya tahan yang jauh melampaui tren apa pun.

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.