MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Hiburan

Bedah konsep teater di konser The Weeknd Jakarta

Konser The Weeknd di Jakarta International Stadium (JIS) pada 26-27 September 2026 bukan cuma sekadar pertunjukan musik biasa, tapi sebuah dramaturgi. Pertunjukan berdurasi dua jam ini adalah gubahan artistik sang musisi atas perjalanan hidupnya yang pernah hancur karena terjerumus dalam euforia pesta, obat-obatan, dan seks, sebelum akhirnya ia perlahan meninggalkan masa lalu tersebut dan lahir kembali.

Konser yang dipromotori oleh TEM Presents dan Live Nation ini merupakan bagian dari tur dunia "After Hours Til Dawn" yang sudah berjalan sejak 2022. Setelah tampil di Jakarta, rangkaian tur ini dijadwalkan bakal berakhir di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 4-5 November 2026. Penantian fans Indonesia sendiri cukup lama, karena musisi asal Kanada ini terakhir kali menginjakkan kaki di Tanah Air pada 2018 saat tampil di panggung Djakarta Warehouse Project X (DWP X), Bali.

Untuk memahami bagaimana konser ini menjadi sebuah 'teater kehidupan', kita harus melihat urutan kejadian dan elemen visual yang dibangun di atas panggung.

Tahap pemanasan: Atmosfer masa lalu

Sebelum The Weeknd naik panggung, suasana dipanaskan oleh DJ asal Jepang, Yousuke Yukimatsu, pada Sabtu 26 September 2026 sekitar pukul 20.00. Yukimatsu membawakan bunyi-bunyian ritmis yang intens dengan lampu sorot kelap-kelip yang mengubah JIS menjadi pesta psychedelic rave. Dentuman musik techno ini bukan tanpa alasan; musik tersebut mengantar imajinasi penonton ke masa lalu Abel Makkonen Tesfaye yang kelam.

Sebelum sukses di industri hiburan, Abel adalah remaja 17 tahun yang putus sekolah dan pergi dari rumah. Ia kemudian berjuang hidup bersama sahabatnya, La Mar Taylor, di sebuah apartemen kecil di pinggiran Kota Toronto, Kanada. Di masa itulah mereka hidup bebas, berpesta, minum alkohol, menggunakan obat-obatan terlarang, hingga mengutil untuk sekadar makan. Abel bahkan sempat ditahan polisi, yang justru menjadi titik balik baginya untuk bangkit dan menata hidup.

Eksekusi visual dan arsitektur panggung

Begitu set Yukimatsu selesai, kru menata panggung dan para penari berjubah merah mengambil posisi. The Weeknd muncul dengan jubah hitam dan topeng berkilau yang memancarkan sinar laser, memulai pertunjukan tepat pukul 21.00. Ia membuka konser dengan lagu dari album Hurry Up Tomorrow (2025).

Kekuatan cerita konser ini ada pada desain panggung karya Alexander Wessely. Panggung tersebut dibuat menyerupai kota dengan bangunan-bangunan yang tidak utuh dan menjulang janggal, seolah-olah baru saja dihantam bencana apokalips hingga menjadi puing. Visual di layar besar memperkuat imaji kehancuran kota fiksi tersebut.

Di tengah panggung, berdiri tegak patung robot seksi berwarna emas karya Hajime Sorayama yang tingginya melampaui puing-puing bangunan. Patung ini menjadi ikon tur yang merepresentasikan eksplorasi Sorayama terhadap hasrat, teknologi, serta batas antara tubuh manusia dan mesin, yang ternyata beririsan dengan narasi hidup The Weeknd.

Metodologi penceritaan lewat trilogi album

Alexander Wessely menjelaskan bahwa arsitektur panggung ini dibangun berdasarkan musik The Weeknd. Ia menggunakan elemen cahaya, visual, dan volume patung robot untuk menciptakan kota fiksi yang mengalami empat babak perjalanan simbolik sang artis: penghormatan, pelapukan, kehancuran, dan akhirnya kelahiran kembali.

Narasi utama konser ini bertumpu pada trilogi tiga album terakhirnya:

Pertama, album After Hours (2020) yang menggambarkan masa gelap. Ini adalah fase di mana sang seniman terjebak dalam pusaran obat-obatan terlarang, wanita, dan hubungan romantis yang rumit. Lagu-lagu dari album ini, seperti "Heartless" dan "After Hours", dibawakan di konser.

Kedua, album Dawn FM (2022) yang diinterpretasikan sebagai purgatory atau fase penyucian jiwa setelah kematian. Di sini, Abel tidak lagi melarikan diri, melainkan menghadapi "hantu-hantu" masa lalunya untuk menebus diri. Beberapa lagu dari album ini turut dilantunkan di panggung.

Ketiga, album Hurry Up Tomorrow (2025) sebagai penutup trilogi yang menandai berakhirnya siklus kedagingan. Pada fase ini, masa lalu yang destruktif akhirnya diterima dan diampu.

Jujur saja, konsep kota hancur yang berubah jadi tempat kelahiran kembali ini keren banget sih, tapi ya itu, perjuangan fans buat sampai ke lokasi konser di JIS dengan segala drama parkir dan tangga yang banyak itu sudah jadi 'ujian' tersendiri sebelum masuk ke teater kehidupan Abel.

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.