Vicky Prasetyo semprot artis dan influencer yang diam soal karhutla

Vicky Prasetyo mempertanyakan sikap para artis dan influencer yang memilih diam saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Lewat unggahan media sosial pada Jumat 16 Oktober 2026, ia mendesak rekan-rekan selebritasnya untuk menggunakan privilese mereka guna menyoroti dampak buruk dari bencana ini.
Vicky merasa ada ketimpangan besar dalam konten yang dibuat para pemilik akun centang biru. Ia membandingkan betapa ramainya konten tentang tren joget viral, isu perselingkuhan artis, hingga pamer gaya hidup mewah, namun suara mereka mendadak hilang saat membahas karhutla. Menurutnya, jari para influencer sangat lincah saat membuat konten hiburan, tapi bibir mereka mendadak kelu ketika hutan dibakar sampai langit berubah warna menjadi kuning.
Kritik pedas soal privilese dan algoritma
Meski tidak menyebutkan nama selebritas tertentu secara lantang, Vicky menekankan bahwa figur publik dengan jutaan pengikut memiliki kekuatan besar dalam membangun opini publik. Ia mengingatkan bahwa mereka bukan sekadar penonton biasa, melainkan "rumah algoritma" yang satu unggahannya saja bisa mengirimkan opini publik dan menekan pengambil kebijakan untuk merespons persoalan karhutla.
Vicky menyentil mereka agar tidak hanya memanfaatkan rakyat demi mendapatkan viewers dan endorsement. Ia mengkritik keras para seleb yang pura-pura netral demi menjaga citra, sementara rakyat kecil harus berjuang menghadapi kekurangan oksigen. Menurutnya, mereka harus memilih: memakai pengaruh tersebut untuk menyelamatkan hutan atau mengakui bahwa jutaan pengikut mereka hanya dipakai untuk menjilat para penguasa.
Dampak nyata bagi manusia dan satwa
Dalam unggahannya yang menggebu-gebu, Vicky menyoroti dampak karhutla yang sangat menyasar kelompok rentan. Ia mengingatkan bahwa saat ini ada bayi-bayi dan lansia yang sedang bertarung nyawa karena tenggorokan terbakar dan paru-parunya diracuni oleh asap, bahkan saat mereka bernapas di dalam rumah sendiri. Ia meminta para publik figur membuka mata terhadap kenyataan pahit ini.
Tidak hanya manusia, Vicky juga menyoroti nasib satwa yang mati terpanggang karena hutan dijarah korporasi, sehingga tidak ada lagi area aman bagi mereka untuk berlari. Menurutnya, para selebritas hanya duduk manis menonton dari balik layar smartphone.
Dukungan dari Chacha Frederica
Kritik Vicky ini mendapat dukungan dari banyak pengguna media sosial, termasuk beberapa akun centang biru. Salah satu yang ikut bersuara adalah presenter Chacha Frederica. Ia menyatakan dirinya tidak bisu dan merasa lelah melihat influencer yang hanya menampilkan konten kecantikan, fesyen, atau kelucuan anak hanya demi mendapatkan komentar "gemas banget".
Chacha menganggap sikap sok netral demi brand adalah hal yang tidak bisa diterima, karena masalah karhutla sudah menyangkut hak dasar hidup manusia dan kemanusiaan. Ia merasa gemas melihat orang masih bisa menjual konten hiburan di tengah situasi bencana. Selain itu, Chacha juga menyoroti isu di Aceh dan NTT yang menurutnya belum tuntas namun tidak ada lagi yang membangun isu tersebut, serta merasa dunia ini terlalu mudah untuk diframing.
Kondisi terkini sebaran asap dan titik panas
Situasi di lapangan memang masih mengkhawatirkan. Berdasarkan pantauan BMKG melalui citra satelit Himawari pukul 08.00 WIB pada Senin 19 Oktober 2026, indikasi sebaran asap terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu 18 Oktober 2026 mencatat masih terdapat 5.499 titik panas (hotspot) dan 247 titik api (firespot) yang tersebar di enam provinsi prioritas karhutla di Indonesia.
Kondisi kualitas udara pun berada pada level yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan pantauan BMKG per Senin 19 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, terdapat empat daerah yang kualitas udaranya masuk dalam kategori berbahaya atau hitam. Daerah-daerah tersebut meliputi Pangkalan Bun dan Palangkaraya di Provinsi Kalimantan Tengah, serta Muaro Jambi dan Kota Jambi di Provinsi Jambi.
