Beda sinetron sama film, mana yang lebih bikin candu?

Banyak dari kita yang sering bingung membedakan sinetron dan film karena keduanya sama-sama menyuguhkan karya audio visual. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, keduanya punya dunia yang sangat berbeda. Sinetron, yang merupakan singkatan dari sinema elektronik, secara definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah film yang dibuat khusus untuk tayangan di media elektronik seperti televisi. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Soemardjono, salah satu pendiri Institut Kesenian Jakarta. Uniknya, sebutan sinetron ini cuma ada di Indonesia, sementara di luar negeri mereka lebih kenal dengan istilah telenovela, TV series, atau soap opera.
Di sisi lain, kita punya film. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, film adalah lakon atau cerita gambar hidup. Sejarahnya sudah panjang banget, dimulai sejak Lumière bersaudara, Auguste dan Louis Lumière dari Prancis, mempromosikan film secara komersial menggunakan layar lebar pada 28 Desember 1895. Kalau sinetron jadi teman setia emak-emak Indonesia saat istirahat setelah lelah beraktivitas seharian, film lebih sering dijadikan ajang kencan, waktu keluarga, atau sekadar main bareng teman dengan beragam tema dan genre, mulai dari komedi, horor Indonesia, sampai franchise besar seperti Avengers dan Toy Story.
Durasi dan Struktur Cerita
Perbedaan paling mencolok ada pada bagaimana cerita itu disampaikan. Film menyajikan satu cerita utuh dengan konflik yang ditampilkan dalam satu waktu. Durasi rata-ratanya berkisar antara 90 hingga 120 menit. Tapi ada yang ekstrem, seperti film Logistics (2012) yang memegang rekor durasi terlama di dunia dengan total tayang 857 jam atau setara 35 hari 17 jam. Meskipun ada film yang punya beberapa jilid untuk tahun-tahun berikutnya, seperti The Hunger Games, Harry Potter, dan The Lord of The Ring, alurnya tetap terasa lengkap dalam satu tayangan.
Sangat kontras dengan sinetron yang alurnya terpecah-pecah ke dalam banyak episode. Setiap episodenya biasanya berdurasi sekitar 30 hingga 60 menit di televisi. Bumbu yang bikin penonton candu justru ada pada alur yang terputus di setiap tayangan, lengkap dengan kata 'bersambung' yang sering muncul di saat-saat paling tidak tepat. Hal ini memaksa penonton untuk menunggu sampai besok hari demi tahu kelanjutan ceritanya. Contoh nyatanya adalah Tukang Ojek Pengkolan di RCTI yang mencapai jumlah 3.719 episode.
Proses Produksi dan Gaya Akting
Kalau bicara soal persiapan, film biasanya butuh waktu yang lama dan sangat matang. Setiap aktor harus mempersiapkan karakter mereka dengan sangat detail agar tampil sempurna. Saking totalitasnya, banyak aktor yang rela diet demi peran di film barunya. Kualitas film juga mengedepankan nuansa yang realistis, sehingga penggunaan properti, filter khusus, dan pencahayaan menjadi sangat krusial. Kamera pun menangkap detail akting yang natural, logis, dan realistis. Setelah tayang di bioskop selama rata-rata 30 sampai 45 hari, film-film ini biasanya baru bisa kita nikmati di Netflix setelah turun layar.
Sementara itu, persiapan sinetron cenderung jauh lebih cepat dan instan. Para pemainnya harus syuting setiap hari karena tuntutan kejar tayang episode baru. Karena targetnya adalah penonton televisi, gaya akting tokoh sinetron biasanya lebih ekspresif dan dramatis agar penonton bisa benar-benar larut ke dalam ceritanya. Tema yang diangkat pun umumnya berkutat pada kehidupan sehari-hari yang penuh konflik seru, di mana tokoh-tokoh baru bisa tiba-tiba diperkenalkan pada episode tertentu.
Jujur saja, memang beda banget antara menonton drama yang aktingnya natural di layar lebar dengan menonton drama yang super ekspresif di TV. Tapi keduanya tetap jadi hiburan asyik buat mengisi waktu senggang. Kalau kamu sendiri, lebih tim nonton maraton episode sinetron atau sekali duduk selesai nonton film?
