MAD IndonesiaMusik, selebriti, dan budaya pop
Hiburan

Cidro Asmoro bakal bawa vibe Jawa yang modern ke bioskop 8 Oktober 2026

Siap-siap, bakal ada film musikal komedi judulnya Cidro Asmoro yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 8 Oktober 2026. Film produksi VISION+ ini nggak cuma satu warna, karena mereka memadukan musik, komedi, romansa, sampai drama dalam satu paket cerita yang dikemas secara modern.

Senoaji Julius selaku sutradara punya visi tersendiri soal budaya Jawa di film ini. Menurut Seno, budaya Jawa di film ini nggak sengaja ditaruh cuma buat unsur visual doang. Jawa di sini bukan berarti harus selalu tampil lewat pakaian, gedung, atau bangunan yang kelihatan mata saja.

Seno menjelaskan kalau unsur Jawanya justru dibangun melalui hal-hal yang lebih mendalam, yaitu lewat sikap, tutur kata, karakter, serta bagaimana kehidupan tokoh-tokohnya berjalan. Pendekatan ini bikin vibe Jawanya tetap terasa kuat, meskipun bentuk filmnya sudah mengikuti tren populer yang dekat dengan penonton zaman sekarang.

Nah, kalau penasaran gimana cara mereka meramu budaya Jawa biar tetap nyambung sama modernitas, ternyata Seno terinspirasi dari lagu-lagunya Ndarboy. Seno melihat ada pola menarik di mana lagu-lagu Ndarboy menggunakan lirik bahasa Jawa yang bicara soal perjuangan atau struggle manusia Jawa, tapi musiknya dikemas secara modern. Konsep inilah yang kemudian dibawa ke dalam film.

Tujuan utamanya jelas: Seno nggak mau budaya Jawa cuma jadi pelengkap atau tempelan di film. Dia ingin menunjukkan kalau unsur Jawa bisa menjadi bagian yang ikut membentuk cerita modern. Baginya, modernitas itu sendiri bisa dibentuk dari akar budaya Jawa.

Elemen musik juga jadi kunci utama di Cidro Asmoro. Lagu-lagu di dalamnya bukan sekadar pengisi suasana biar nggak sepi, tapi punya peran penting untuk membawa jalan cerita. Musiknya bakal mengiringi perubahan emosi, konflik, sampai perjalanan karakter yang ada di film.

Ceritanya sendiri fokus ke Prita, yang diperankan oleh Jodilee Warwick. Prita ini adalah seorang penjaga kafe sederhana di Jogjakarta yang punya mimpi besar jadi penyanyi. Hidupnya berubah total setelah ada video viral di media sosial yang memperlihatkan dia bernyanyi dan berjoget secara spontan bareng seorang pengamen.

Efek viral itu bikin Prita mendadak terkenal dan masuk ke dunia hiburan. Tapi ya namanya dunia artis, popularitas instan ini malah membawa masalah baru. Prita harus menghadapi persaingan dengan musisi dan band yang merasa terusik dengan kehadiran Prita yang tiba-tiba populer.

Ndarboy sendiri berperan sebagai Ndaru. Dia merasa cerita dalam film ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa, terutama mereka yang harus merintis karier dari nol. Ndarboy merasa beberapa adegan di film ini terasa nyata, seperti pengalaman yang pernah dia lihat atau alami sendiri.

Menurut Ndarboy, peran Ndaru menggambarkan kisah hidup masyarakat Jawa pada umumnya yang penuh ambisi saat merintis karier dari bawah, termasuk menghadapi dinamika pertemanan yang kadang baik tapi kadang nggak terduga.

Selain fokus pada karakter dan bahasa, film ini tetap mempertahankan identitas lewat musik campursari. Hasilnya, budaya Jawa ditempatkan berdampingan dengan isu-isu kekinian, seperti pengaruh popularitas media sosial, mimpi jadi terkenal, sampai perjuangan membangun karier.

Erick Estrada, salah satu pemainnya, juga memberikan opini soal posisi film berbahasa daerah. Dia mendorong penonton Indonesia untuk nggak mengesampingkan film lokal hanya karena menggunakan bahasa daerah, mengingat banyaknya tontonan dari berbagai negara yang masuk ke Indonesia.

Kira-kira bakal se-ikonik itu nggak ya musik campursarinya di layar lebar?

Dengan informasi dari sumber publik, Wikipedia, YouTube, Instagram, dan TikTok.