Budi Doremi curhat soal people pleasing dan cara cinta diri sendiri

Budi Doremi baru saja merilis single terbaru berjudul 'Cinta Diri Sendiri' yang mengangkat tema self-love. Lewat lagu ini, Budi membagikan refleksi personal tentang pengalamannya yang terlalu berusaha menyenangkan orang lain sampai akhirnya dia sadar betapa pentingnya mencintai diri sendiri. Dia bercerita bahwa kebiasaan people pleasing ini sempat memengaruhi caranya menjalani hubungan serta cara dia melihat dirinya sendiri.
Budi menyadari kalau memberikan energi terlalu banyak untuk orang lain ternyata tidak selalu menghasilkan balasan yang sepadan. Menariknya, kesadaran untuk mulai memprioritaskan kebutuhan diri sendiri ini baru benar-benar dia rasakan saat memasuki usia 40 tahun. Pengalaman hidup inilah yang kemudian menjadi dasar dan refleksi yang terasa sangat dekat dengan pesan dalam lagu 'Cinta Diri Sendiri'.
Sadar energinya terkuras karena terlalu ingin menyenangkan orang lain
Budi Doremi mengungkapkan bahwa kesadaran soal kebiasaan people pleasing ini muncul ketika dia mulai merasa banyak energinya yang terkuras habis. Menurut Budi, usaha untuk terus-terusan menyenangkan orang lain itu ternyata tidak selalu mendapatkan feedback yang sama. Menurutnya, berharap feedback yang sama itu ternyata sesat, karena energi yang keluar sangat banyak.
Budi menjelaskan bahwa seseorang bisa saja melakukan berbagai hal untuk menyenangkan orang lain tanpa sadar sebenarnya ada harapan untuk mendapatkan perlakuan yang serupa. Kalau pola ini dilakukan berulang kali, Budi menilai hal tersebut justru bisa membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Jujur saja, siapa sih yang nggak merasa capek kalau sudah kasih semua tapi nggak dapat apa-apa?
Menganggap sikap terlalu baik sebagai jati diri
Menurut Budi Doremi, people pleasing itu tidak selalu terlihat negatif karena sering kali muncul lewat perilaku yang dianggap baik, rendah hati, atau selalu mengalah. Namun, di balik sikap tersebut, Budi menyadari bahwa bisa saja ada persoalan dalam diri yang sebenarnya belum benar-benar selesai. Dia merasa selama ini sering mengatasnamakan tindak-tanduk rendah hati atau baik kepada orang lain sebagai jati diri, padahal itu adalah bentuk people pleasing yang belum terselesaikan.
Budi menilai kalau pola seperti ini bisa membuat seseorang terus mengulang perilaku yang sama tanpa benar-benar menyadari alasan di baliknya. Dia mengaku pernah berada di kondisi di mana dia terlalu fokus memberikan sesuatu kepada orang lain sampai-sampai akhirnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Jadi, jadi orang baik itu boleh, tapi kalau sampai kehilangan diri sendiri, itu sudah lampu merah.
Belajar memprioritaskan diri sendiri di usia 40
Kesadaran untuk memprioritaskan kebutuhan diri sendiri semakin kuat dirasakan Budi Doremi ketika dia menginjak usia 40 tahun. Dia menyadari bahwa terus mengejar atau berusaha menyenangkan orang-orang yang disayanginya justru tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan. Bagi Budi, topik mengenai pentingnya memprioritaskan hal-hal yang dibutuhkan diri sendiri baru benar-benar membuatnya sadar saat mencapai usia tersebut.
Budi juga membagikan pesan dari orang tuanya yang menjadi salah satu prinsip hidupnya. Pesan tersebut mengingatkan bahwa seseorang mungkin saja ditinggalkan oleh pasangan, anak, teman, atau orang-orang terdekat, tetapi diri sendiri tidak boleh sampai ditinggalkan. Prinsip inilah yang membantu Budi memahami arti mencintai diri sendiri.
Lewat lagu 'Cinta Diri Sendiri', Budi mengemas pengalaman berat tersebut menjadi karya yang lebih ringan. Namun, meskipun ringan, lagunya tetap membawa pesan tentang proses mengenal dan menghargai diri sendiri. Intinya, menyayangi orang lain itu perlu, tapi kemampuan untuk menjaga dan menghargai diri sendiri harus tetap berjalan beriringan.
