Sejauh Mata Memandang buka toko permanen pertama, bukan cuma jualan tapi bantu UMKM

Sejauh Mata Memandang memasuki tahun ke-12 dengan langkah besar: membuka toko permanen pertamanya di Plaza Indonesia. Bagi sang pendiri dan direktur kreatif, Chitra Subyakto, toko ini bukan sekadar tempat transaksi, tapi jawaban buat para mitra UMKM dan artisan yang selama ini kesulitan memasarkan produk mereka. Di sini, pengunjung bisa melihat dan menyentuh langsung karya-karya yang dibuat pakai teknik tradisional dan material alami, sambil mengenal cerita proses di baliknya.
Kalau kalian mampir ke level 3 di area Indonesian Icons Plaza Indonesia, kalian bakal nemuin suasana yang terasa sangat personal. Chitra bekerja sama dengan Felix Tjahjadi sebagai kolaborator pengarah kreatif untuk mendesain ruang ini. Inspirasinya ternyata datang dari rumah masa kecil Chitra. Biar vibes-nya makin terasa, ada foto-foto rumah keluarganya dan beberapa mebel antik dari rumah tersebut yang diletakkan di dalam toko. Jadi, pengalaman belanja di sini terasa lebih dekat dengan kisah hidup sang pendiri.
Chitra percaya kalau bertumbuh itu nggak bisa sendirian. Baginya, perkembangan brand ini adalah hasil dari kolaborasi, pertemuan, dan kemauan untuk terus belajar bareng para mitra di berbagai daerah. Chitra bahkan bilang, “Kami bertumbuh dengan bergandengan bersama teman-teman mitra.” Konsep bertumbuh ini juga berarti Chitra terus mengevaluasi proses yang perlu diperbaiki dan mencari cara untuk menjalankan praktik yang lebih baik. Inilah yang bikin Sejauh terus menggandeng perajin daerah supaya keterampilan tradisional mereka tetap lestari.
Salah satu wujud nyata dari semangat kolaborasi ini adalah hadirnya karya tenun dari Cibal, Flores, Nusa Tenggara Timur, dalam rangkaian perayaan 12 tahun ini. Sejauh berkolaborasi dengan Rumah Tenun Batu Peduli untuk menghadirkan koleksi tenun terkurasi. Langkah ini merupakan dukungan buat para mama penenun di Cibal yang terdampak gempa bumi di Flores Utara pada Agustus 2026. Chitra menjelaskan kalau para mitra ini butuh ruang untuk menjual kain tenun mereka demi membangun kembali rumah-rumah yang runtuh.
Menurut Chitra, hidup itu bukan cuma soal diri sendiri, tapi tentang ruang lingkup yang lebih luas. Apa pun yang dilakukan pasti membawa dampak, entah kecil atau besar, dan menurutnya diam bukanlah sebuah pilihan. Dengan memberi ruang bagi karya para perajin, Sejauh ingin menunjukkan bahwa sebuah brand bisa berkembang sambil memperluas ruang bagi orang-orang yang berjuang bersama mereka.
Nggak cuma soal fisik toko, Sejauh juga memperkenalkan teknologi Digital Product Passport. Sistem ini terhubung dengan Mula, yang merupakan platform mitra Studio Sejauh. Tujuannya jelas: biar informasi soal bahan dan proses pembuatan produk jadi lebih transparan. Chitra merasa informasi ini krusial karena pakaian bersentuhan langsung dengan tubuh kita. Dengan tahu material dan prosesnya, konsumen bisa lebih paham apa yang sebenarnya mereka kenakan.
Harapan Chitra, toko baru ini bisa jadi tempat bagi semua orang untuk bersama-sama menghasilkan karya. Memasuki tahun ke-12 bagi Sejauh berarti membuka ruang yang nggak cuma pamer hasil kerja, tapi juga memberi tempat bagi semua orang yang sudah ikut berperan dalam perjalanan brand ini agar bisa terus bergerak maju.
